#30dayswritingchallenge day 5: Sedikit Cerita Tentang Orang Tua Saya yang Lain

 



Orang tua bisa jadi teman yang baik, sahabat yang setia, tempat curhat yang menyenangkan, moodbooster saat kita lelah, dan tentu saja menjadi pahlawan dalam hidup kita. Darinya kita belajar tentang tanggung jawab, kejujuran, idealisme, cita-cita, cara pandang, ideologi, cara untuk hidup dan cara menjadi manusia yang seutuhnya. Begitu besar peran orang tua dalam hidup seorang anak, lantas bagaimana jadinya jika anak harus hidup tanpa orang tua sejak kecil? 

Sudah pasti semua keindahan dan kemudahan hidup juga ikut lenyap. Menguap bersama air mata yang jatuh, terpendam oleh tanah merah sedalam-dalamnya. Begitu dalam sampai sangat sulit untuk muncul kembali. Salah satu contoh dari keindahan yang hilang tersebut adalah cerita tentang orang tua. Anak kecil pun mengerti bahwa tidak mungkin menceritakan seseorang yang tidak ada dalam ingatan. Kalaupun bisa ya dengan berbohong—mengarang cerita fiksi, misalnya—namun tetap saja tidak ada rasa di dalamnya. 

Ini lah yang nggak mau saya lakukan sekarang, mengarang cerita fiksi tentang kedua orang tua saya. Daripada begitu, lebih baik menceritakan “orang tua” yang lain. Sampai tulisan ini dibuat, saya sudah punya 4 orang mamah dan 2 orang bapak. Nggak, kami sama sekali nggak punya hubungan darah. Mereka adalah orang tua sahabat-sahabat saya yang dengan seenaknya saya panggil mamah dan bapak.  

Mamah yang pertama adalah seorang wanita pekerja yang baik, dan cantik. Meski saya menyebutnya mamah, namun kami sangat sangat sangat jarang berbicara. Bahkan saat saya menginap di rumahnya, kami hanya bertatap muka sebentar karena saya lebih banyak diam di kamar sobat saya. 

Mamah yang kedua juga seorang ibu rumah tangga yang baik, cantik, dan sangat sering berbicara. Bisa dibilang kami masih tetanggaan. Jarak dari rumah saya ke rumahnya hanya lima menit jalan kaki. Malah kalau lewat jalan pintas cuma tiga menit. Sayangnya, sudah hampir sepuluh tahun saya nggak datang menengoknya. Mungkin karena malu atau karena saya dan anaknya sudah nggak pernah bareng lagi. Ya, waktu terus berjalan dan hidup berubah dari waktu ke waktu. Namun, ia tetap mamah yang saya sayangi. 

Hubungan saya dan mamah yang ketiga nggak beda jauh dengan yang kedua. Sebelum umur membuat kami terpisah, saya sering sekali mengunjungi rumahnya sekadar membeli mie ayam dan bercengkrama dengannya. Darinya saya menyadari bahwa masakan orang tua memang nggak ada yang bisa menandingi. 

Mamah yang keempat, sejauh ini, merupakan yang masih sangat dekat dengan saya. Ia adalah seorang wanita pekerja keras bahkan sanggup menghidupi dua orang sobat saya seorang diri. Saban lebaran atau libur panjang, saya pasti menyempatkan diri menengoknya sekalian main. Bersamanya saya merasakan kehangatan keluarga dan keseruan menceritakan macam-macam cerita tanpa beban dan penilaian yang berlebihan. 

Dua orang bapak yang saya sebutkan sebelumnya, adalah suami dari mamah yang pertama dan kedua. Hubungan saya dan mereka tidak terlalu dekat namun sampai kapanpun hormat saya buat mereka tetap terjaga. Sampai kapanpun. 

Meski punya banyak orang tua, namun tetap saja, di rumah saya sering merasa sendiri. Tapi ya sendiri dan sepi sudah jadi bayangan saya sejak dulu—nggak ada lagi yang perlu dikhawatirkan tentangnya.
Lebih baru Lebih lama