#30dayswritingchallenge day 6: Sebelum Jadi Jomblo yang Berbahagia




Sebelum mulai tantangan menulis—yang sempat tertunda dua hari ini—saya mau bilang bahwa konsistensi dalam menulis ternyata sulit juga. Buktinya, tantangan ini nggak bisa saya lakukan dengan baik. Harusnya nulis sehari satu topik ini malah jadi sehari dua topik. Tapi yasudahlah, nggak ada yang menilai dan saya memang mengikuti tantangan ini buat membangun kebiasaan menulis seperti beberapa bulan yang lalu. 

Oke selesai sudah curhatnya, sekarang masuk ke topik utama: Single dan happy alias jomblo tapi bahagia. 

Sebenarnya saya nggak terlalu pas bicara tentang kejombloan saat ini. Apalagi mengingat usia hubungan saya dan si eneng yang sudah satu dasawarsa. Tapi seperti kata pepatah: tak ada pacaran yang tak putus. Selama satu dasawarsa bersama, saya sudah pernah putus sebanyak tiga kali. Artinya saya pernah menjomblo juga. Bedanya mungkin nggak menahun seperti kamu :p 

Nah apakah saya bahagia saat menjomblo dulu? Jawabannya ya dan tidak. Lebih tepatnya tidak bahagia dulu lalu jadi bahagia. 

Saya yakin, kamu pasti pernah mendengar atau membaca kalimat yang intinya bilang bahwa jomblo itu menyenangkan. Kalau kamu mau percaya, sebenarnya kalimat itu belum lengkap karena seharusnya ada tambahan “setelah kita berdamai dengan kejombloan.” Jadi kalau dituliskan lengkapnya jadi begini kurang lebih: Jomblo itu menyenangkan setelah kita berdamai dengan kejombloan. 

Sebelum menemukan kebahagiaan sebagai seorang jomblo, kita harus berdamai dulu dengan perasaan iri, insekyur, minder, malu, gengsi, dan lain-lain. Intinya, pikiran negatif. Terutama buat jomblowan-jomblowati di usia remaja sampai dewasa awal. Ya gimana nggak berpikir negatif kalau kamu dikelilingi oleh orang-orang yang sedang dimabuk cinta dan merasa bahwa dunia cuma milik mereka dan pasangannya. 

Dulu banget, sebelum jadian sama si eneng di kelas 9, saya sering jadi teman curhat anak-anak di kelas. Mau cewek atau cowok, curhatnya pasti sama saya. Nggak tahu kenapa bisa begitu. Padahal mereka tahu bahwa saya itu jomblo. Ajaibnya, saya bisa memberikan saran atau tanggapan buat setiap curhatan mereka. Nah kan, gimana bisa begitu? 

Saya nggak tahu. 

Kalau disuruh mengira-ngira, mungkin karena saya bisa melihat duduk permasalahan dengan kepala yang lebih dingin jadi tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka kan—yang curhat ke saya—jelas menganggap dirinya benar meski sebenarnya salah. 

Sialnya, beberapa kali justru saya jatuh hati sama salah satu teman yang suka curhat itu. Gimana lagi, selain curhat ia juga memberikan perhatian. Sekarang coba pikirkan, apa yang terjadi saat seorang cowok comblo mendapat perhatian dari cewek? Nah, saya tau saya brengsek tapi mau gimana lagi, toh cinta nggak bisa ditebak kedatangannya. 

Selain jadi teman curhat, hal yang paling bikin bete dulu adalah teman-teman setongkrongan lebih mementingkan pacarnya daripada saya. Kan ngehe ya. Dari sini kemudian muncul perasaan iri dan dengki. “kalau gue punya pacar, mungkin gue nggak main gitar sendirian di pos ronda tiap malam minggu” begitu kira-kira pikiran saya dulu. 

Apalagi ya… mmm… 

Oh iya! Yang super duper nyebelin adalah saat saya jadi obat nyamuk alias mendapat tugas nemenin temen pacaran! Bah! Siapa puun yang minta temennya nemenin pacaran adalah makhluk paling nyebelin di bumi ini!!! Sebaiknya kamu berhati-hati kalau ada temen yang minta anter ketemu pacarnya ya. 

Bayangkan, deh. Saya pernah diminta nganter temen apel ke rumah pacarnya jam 8 malam. Waktu itu kalau nggak salah ingat, saya sedang asik ngulik lagu di rumah karena nggak ada temen yang bisa diajak maen juga. 

Jreng…gonjreng…gonjreng… suara gitar mengalun indah tiba-tiba hp saya berbunyi, tanda sms masuk. 

“Di mana? Anter ka si Iteung hayu!” Tulis teman saya di sms itu 

Di imah. Maneh di mana? Hayu, dieu ka imah we,” jawab saya 

"nya, otw ayeuna. Dagoan di hareupeun gang” 

Gitar saya simpan dan mengganti setelan dengan setelan main lalu pergi menemui teman saya di depan gang yang menuju ke rumah saya. Kirain bakal menyenangkan karena mereka berdua teman saya, tapi ternyata kezel nya naudzubillah!!! 

Malam itu hujan turun, otomatis waktu kepulangan saya tertunda. Dan tahu apa yang terjadi? Mereka berdua masuk ke dalam rumah sedangkan saya duduk di kursi di teras rumah sambil merokok. Bedebah!!! 

Masih ada lagi pengalaman menyebalkan lainnya saat menyandang status jomblo dulu. Tapi itu semua nggak ada apa-apanya dibandingkan pikiran negatif yang muncul saat saya sedang sendirian tanpa ada yang menemani. 

Kadang, saya mikir bahwa saya sangat sial karena terlahir jelek dan miskin. Kadang juga saya mengutuk nasib karena sudah memperkenalkan saya pada teman-teman yang ganteng juga kaya. Lingkaran pertemanan yang berbeda 180 derajat ini kemudian memunculkan insekyuritas dalam diri saya sendiri. Tanpa disadari, saya mulai bodo amat dengan wanita bahkan cenderung nggak mau nyari pacar. Nah, untuk bisa bahagia menjadi jomblo, kita harus berdamai dulu dengan hal-hal seperti ini. Kalau nggak ya sudah jelas kita bakal jadi jomblo ngenes. 

Kalau kamu sekarang jomblo dan sedang mencari penyemangat, izinkan saya memberikan satu kaimat buatmu: Jomblo-lah terus sampai kamu bisa melawan kesendirianmu, setelah itu cari pacar agar kamu tahu bagaimana rasanya nggak jomblo! 

Sekian, assalamualaikum!
Lebih baru Lebih lama