Behind DeText #1: Mari Melepaskan Sendawa Dari Stigma Negatif


Mari Melepaskan Sendawa Dari Stigma Negatif adalah tulisan pertama saya yang lolos kurasi redaktur Terminal Mojok. Kalau nggak salah, cuma sehari jarak antara kirim dengan tayangnya. Saya kirim hari ini, besoknya terbit. 


Ide tulisannya datang dari obrolan ringan bersama kawan di telepon. Dia cewek, kami memang cukup sering ghibah di telepon sampai berjam-jam. 


Suatu hari, dia telepon malam-malam. Saya lupa tepatnya jam berapa, mungkin antara jam sebelas sampai jam satu malam. Dia minta ditemani karena nggak temen di kosannya. Maklum, dia nggak kerja di deket rumahnya jadi begitu lah. 


Singkat cerita, di tengah obrolan kami, dia bersendawa atau teurab dalam bahasa Sunda, lalu meminta maaf. Hal yang biasa terjadi di Indonesia. Saya bilang dia nggak perlu minta maaf, toh sendawa adalah sebuah kenikmatan yang harus dikeluarkan. 


Sejak dulu saya selalu teurab di mana saja; bersama siapa saja. Nggak ada yang salah dari sebuah sendawa. Saya ingatkan sekali lagi: itu hal yang wajar dan merupakan sebuah kenikmatan. Ya mirip bersin, lah. 


Nggak sopan sebelah mananya, sih? Pernah nggak kamu menahan sendawa terus tiba-tiba merasa nggak nyaman, kayak ada yang mengganjal di tenggorokan? Saya pernah, dan itu nggak enak banget. Saya harus memaksakan buat bersendawa, padahal apapun yang dipaksa nggak akan enak, toh? 


Yang paling menyebalkan saat bersendawa di tempat umum adalah tatapan jijik dari orang lain. Padahal, seperti yang saya jelaskan di tulisannya, sendawa itu sudah diajarkan oleh orang tua kita sejak dulu. Sebelum kita belajar merangkak atau berjalan, para ibu biasa menepuk pundak anaknya agar udara yang masuk saat menyusui keluar.


Jadi sekali lagi, nggak sopan sebelah mananya?


Lalu entah kenapa dalam pikiran saya tiba-tiba ingin menulis tentang hal ini. Saya pengin orang lain tahu bahwa sendawa itu manusiawi, nggak ada yang salah darinya. Dia hanya mendapatkan stigma negatif saja di masyarakat. 


Maka, lahirlah tulisan Mari Melepaskan Sendawa Dari Stigma Negatif. Sebuah perspektif baru yang saya ajukan kepada siapapun pembacanya. 

Lebih baru Lebih lama