-->

Ulasan Buku Animal Farm (George Orwell): Babi-babi yang Culas!!!


Blurb:
Suatu malam, Major, si babi tua yang bijaksana, mengumpulkan para binatang di peternakan untuk bercerita tentang mimpinya. Setelah sekian lama hidup di bawah tirani manusia, Major mendapat visi bahwa kelak sebuah pemberontakan akan dilakukan binatang terhadap manusia; menciptakan sebuah dunia di mana binatang akan berkuasa atas dirinya sendiri. 

Tak lama, pemberontakan benar-benar terjadi. Kekuasaan manusia digulingkan di bawah pimpinan dua bbi cerdas: Snowball dan Napoleon. Namun, kekuasaan ternyata sungguh memabukkan. Demokrasi ang digaungkan perlahan berbelok kembali menjadi tiran di mana pemimpin harus selalu benar. Dualisme kepemimpinan tak bisa dibiarkan. Salah satu harus disingkirkan… walau harus dengan kekerasan.

Animal Farm merupakan novel alegori politik yang ditulis George Orwell pada masa Perang Dunia II sebagai satire atas totaliterisme Uni Soviet. Dianugerahi Retro Hugo Award  (1996) untuk novea terbaik dan Promotheus Hall of Fame Award (2011), Animal Farm menjadi mahakarya Orwell yang melejitkan namanya. 

***
“Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan” -Major, si babi tua yang bijaksana dari peternakan binatang (Animal Farm, halaman 6)

Buku Animal Farm adalah buku kedua dari rentang perjalanan panjang saya memulai kembali kebiasaan membaca. Yang pertama tentu saja Inilah Esai karya Muhidin M. Dahlan. Di buku Animal Farm ini, saya diperkenalkan dengan banyak hal, khususnya dunia politik secara singkat—seperti yang ditulis dalam blurb di atas, novela ini adalah sebuah alegori politik. Dan terima kasih kepada blurb-nya karena saya gak perlu bersusah payah menerka-nerka makna tersirat yang disampaikan Orwell, saya membaca buku ini dengan perspektif politik. 

Sayangnya, di beberapa bab pertama, pembahasan dalam buku ini bisa dibilang terlalu monoton, padahal narasinya tidak terlalu detail. Maksud saya, jika deskripsi dihilangkan bukankah lebih baik menambah konflik biar gak monoton, ya kan? Meskipun pemberontakan terjadi di bab-bab awal, namun saya rasa konflik utamanya bukan itu. Terlebih lagi, Major, si babi tua yang menebarkan visi kemajuan pada binatang di Peternakan Manor justru mati tak lama setelah ia berpidato. Tambah membosankan saja ceritanya.

Untungnya, di tengah-tengah cerita konflik kembali muncul. Snowball dan Napoleon, dua babi cerdas pemimpin pemberontakan para binatang berselisih pendapat. Setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh Snowball pasti ditentang oleh Napoleon, begitu pun sebaliknya. Sampai akhirnya, Napoleon mengambil langkah konkret: ia mengusir Snowball. 

Setelah kepergian Snowball, cerita mulai gak monoton lagi seperti di awal, melainkan jadi menyebalkan! Apalagi untuk sekelas babi, kelakuan Napoleon memang pantas dihujat rasanya! Dengan kecerdikannya, ia berubah menjadi seorang diktator yang memanfaatkan ketakutan binatang lain untuk memimpin. 

Saya gak tahu pasti apakah babi memang terbukti secara ilmiah lebih pintar dari hewan ternak yang lainnya, namun menurut saya dalam Animal Farm kelakuan para babi jelas sangat pintar. Secara perlahan tapi pasti Napoleon dan babi-babi yang lainnya mulai membangun privilese untuk kelompoknya. Bahkan Napoleon mengatakan hewan lain harus menyingkir jika ada babi yang lewat. Dan bayangkan, ia berani menyuruh hewan lain untuk membangun sebuah kincir angin dengan alasan untuk meningkatkan kesejahteraan para hewan ternak di Peternakan Binatang. 

Singkatnya: culas.

KZL!

“Tanda mencolok dari Manusia adalah tangannya, yang dengan instrumen itu ia bisa melakukan segala kejahatan.” Snowball, seekor babi anggota peternakan binatang (Animal Farm, halaman 33)

Babi, sebagaimana yang saya tahu, adalah hewan pemakan segala dan rakus. Maka saat para babi secara perlahan-lahan mengambil makanan, tempat tinggal utama di peternakan yang digunakan bersama-sama oleh hewan yang lainnya, tenaga, waktu tdur, tenaga—seluruh hidup—hewan ternak lainnya dengan alasan yang sama, yaitu “kemajuan bersama”.

Padahal, saat pemberontakan direncanakan, Major sempat menyinggung jumlah pakan yang gak terbatas dan kebebasan dari “kekangan” manusia. Ternyata secara perlahan-lahan jatah makanan mereka dikurangi oleh Napoleon dan babi-babi lainnya. 

Sementara para babi, Napoleon khususnya, bisa menikmati bir, apel, biskuit, dan makanan lainnya sesuka hati mereka. Pokoknya, yang mereka pedulikan adalah bagaimana caranya para hewan ternak mau bekerja keras tanpa sempat memikirkan untuk memberontak, bahkan memikirkan jumlah makanan mereka yang berkurang pun gak sempat. Tentu saja dengan cara cerdik khas seekor Napoleon. 

Di bagian akhir buku ini, saya menemukan sebuah twist yang—bagi saya—luar biasa, menarik, dan lucu. Pokoknya, jangan berani membaca halaman terakhir dari Buku Animal Farm karena kamu akan menyesal.

“Manusia tidak pernah melayani siapa pun kecuali dirinya sendiri”-Major, si babi tua yang bijaksana dari peternakan binatang (Animal Fam, halaman 8)

---
Nah, teman-teman. Sepertinya saya bakal makin jarang menulis di blog ini. Ke depannya, saya punya rencana untuk mengisi blog saya yang satunya lagi Just Pog secara konsisten. Doakan semoga istiqomah ya :)
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Subscribe Our Newsletter