Ringkasan Materi Kulwap #2 The Columnist: Menemukan Ide Menarik dan Strategi Menuliskan Gagasan

Pernah nggak kamu kesulitan mencari ide buat dijadikan tulisan? Hati pengin banget nulis sesuatu tapi bingung nggak tau harus nulis apa. Kayak ng-blank aja isi kepala. 


Saya sih sering wkwkwk


Kalau udah gitu biasanya mood nulis turun lalu akhirnya produktivitas juga menurun. Biasanya sehari bisa dua sampai tiga tulisan tapi kalau udah nggak dapet ide, bisa rampung satu tulisan pun alhamdulillah banget.


Menurut Mas Yuli Isnadi, Litbang The Cplumnist, sebelum mencari ide penulis harusnya mengetahui dulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan ide itu sendiri.


Ini perlu penulis pahami agar nggak merasa buntu dalam mencari ide, apalagi di jaman sekarang yang sangat membutuhkan ide-ide menarik buat sebuah tulisan. 


Ketika bicara soal ide tulisan, kita harus mulai dari inti menulis lebih dulu. Jadi ide yang dihasilkan nggak bikin pembaca jenuh juga. 


Menulis, menurut Mas Yuli adalah kegiatan menyampaikan gagasan yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. Artinya kita menulis untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan gagasan yang kita punya. 


Sebenarnya kita menulis itu untuk kepentingan orang lain, bukan kepentingan pribadi. Karena dengan begitu, tulisan kita menjadi layak buat dibaca masyarakat luas.


Jadi kesimpulannya, ide yang menarik sama dengan kebutuhan masyarakat luas.


Tapi, gimana caranya kita bisa tahu apa yang sedang masyarakat butuhkan sementara kita sendiri cuma punya dua mata; dua tangan; dan dua kaki? 


Terima kasih buat teknologi, sekarang kita sudah bisa mengetahuinya dengan mudah berkat bantuan media sosial dan internet. 


Di media sosial kita bisa menemukan sesuatu yang viral dengan cepat, tinggal kunjungi kolom trending di twitter nanti ketahuan apa yang netizen bicarakan.


Tapi harus diingat juga bahwa nulis soal isu-isu yang lagi panas itu ada masalah yang lainnya: bingung nentuin angel tulisan! Wkwkwk.


Mau nyari bahan dari medsos, nanti jadinya argumen kita sama kayak netizen atau lebih parah lagi: kita cuma menyatukan semua argumen merek dalam satu tulisan. 


Kalau sudah begitu, mungkin saran kita bisa coba saran dari Mas Supriyadi, Editor The Columnist, yang bilang bahwa ide menarik juga bisa lahir dari pengalaman pribadi. Pernah coba belum nulis soal isu viral dengan perspektif pengalaman pribadi? 


Saya belum, tapi pasti nanti waktunya bakal tiba juga. 


Kalau isu viral terlalu berat buatmu, bisa coba dengan cara banyak baca artikel di portal berita online (detik, cnn, liputan6 dst dst dst) atau membaca tulisan penulis lain, atau di website seperti drone emprit. 


Bisa juga dengan cara berpolemik atau diskusi, menanggapi tulisan orang lain jadi nantinya muncul banyak perspektif buat satu isu. Pembaca tentu bakal punya informasi yang lebih banyak lagi kalau sudah begini. Iya kan? 


Atau misalnya kamu lebih banyak hidup di dunia offline daripada online, bisa juga mencari ide dari hasil obrolan bareng temen-temen di warung. Bisa juga dengan mengamati lingkungan di sekitarmu yang justru secara nggak sadar banyak menyimpan ide menarik buat tulisan. 


Hanya saja, butuh kunci agar bisa menemukannya, yaitu peka. Selama kita nggak bisa peka sama lingkungan ya percuma saja, nggak ada yang bisa kita ambil. 


Maksudnya kita harus pandai menemukan ide tulisan dari kejadian-kejadian yang ada di lingkungan sekitar kita. 


Contoh nyatanya, soal sendawa yang pernah saya tulis di terminal mojok. Silahkan baca ceritanya di menu Behind DeText di blog ini wkwkwk promosi dikit gapapa ya ;;)


Sekarang lanjut ke pertanyaan kedua, yaitu bagaimana cara menuliskan gagasan agar ide yang kita punya nggak cuma mengendap di kepala? 


Percaya nggak kalau tanpa gagasan yang tersusun dengan baik, ide yang kita punya nggak ada nilainya alias nggak bermanfaat sama sekali? 


Jangankan memenuhi kebutuhan masyarakat luas, tanpa gagasan yang baik, kita cuma bikin pembaca bingung. Gagasan, saya pikir adalah sebuah alat bantu agar ide kita bisa tersampaikan dengan baik. 


Coba, berapa kali kamu draft tulisanmu lalu mikir "ini gue mau ngomongin apa sih sebenenya?" 


Saya sih banyak, mungkin 20 lebih hahaha. 


Hal ini terjadi karena ide saya nggak disertai dengan gagasan yang baik. Saya membahas semua yang berkaitan dengan ide semaunya, yang penting nyambung dan masih satu koridor wkwkwk.


Nah menurut Mas Yuli dan Mas Supri, ada strategi tersendiri buat menuliskan gagasan kita.


Mas Yuli menyarankan untuk mengubah setiap ide yang kita miliki menjadi sebuah pertanyaan lengkap dengan jawabannya. 


Misalnya, saya punya kucing di rumah yang tiap diajak bicara pasti nyaut. Ini pengin saya bahas dalam tulisan, maka yang harus saya lakukan adalah mengubahnya menjadi pertanyaan lebih dulu. 


Pertanyaan yang saya buat adalah "Apakah kucing bisa mengerti ucapan manusia?" Jawabannya, bisa karena mereka sering nyaut waktu saya ajak bicara. 


Kalau sudah menemukan keduanya, maka tinggal mencari pertanyaan turunan dari pertanyaan yang pertama (apakah kucing bisa mengerti ucapan manusia?). Beberapa pertanyaan turunan yang sama temukan adalah apa bukti kucing bisa mengerti ucapan manusia? Bagaimana prosesnya? Kenapa hal tersebut bisa terjadi? 


Kuncinya adalah membuat pertanyaan sebanyak mungkin menggunakan rumus 5W+1H jadi bisa kita jelaskan lebih lanjut lagi dalam tulisan. Jangan cuma membuat pertanyaan yang bisa dijawab dengan "ya atau tidak".


Setelah menemukan pertanyaannya maka kita bisa menjalankan strategi dari Mas Supri, yaitu membuat catatan kecil dari mulai kalimat pembuka sampai kesimpulan atau bahasa kerennya bikin draft dulu. 


Lalu bikin catatan data pendukung tulisan kita, habis itu lanjut ke mencari teori atau pendapat ahli dan mengembangkan draft menjadi tulisan dengan opini pribadi serta argumen yang kuat. 


Urutan bahasannya bebas, suka-suka kita aja pokoknya mah. Yang penting setiap paragraf harus membahas satu pertanyaan secara singkat, padat dan jelas.


Setelah draft rampung, baca kembali tulisan kita buat revisi final. Sebelum dikirim ke media, jangan lupa juga cek judul serupa di google barangkali nanti ada yang sudah bahas. Plagiasi adalah kejahatan terbesar dalam dunia tulis-menulis, itu seperti korupsi para tikus-tikus istana. 


Nah begitulah ulasan singkat dari materi Kulwap #2 yang diadakan oleh The Columnist tanggal 28 Mei kemarin. Saya baru sempat bikin tulisannya hari ini karena satu dan lain hal wkwkwk maafkeun. 


Semoga bermanfaat, sampai jumpa kembali di postingan selanjutnya!

Lebih baru Lebih lama