Resensi (ala-ala) Novel Re:


"Lonte itu sepertinya saja hidup karena masih bernafas. Padahal sudah mati. Sering dianggap bukan manusia. Kalau sudah tidak diperlukan, dibuang begitu saja. Dikejar-kejar seperti anak coro. Diinjak-injak sampai nggak berbentuk." -hal. 40

Prostitusi di Indonesia bukan hal baru, ia bahkan sudah ada sejak tahun 1852. Menurut Terence H. Hull prostitusi di Indonesia sudah ada sejak tahun 1852, di jaman penguasaan Belanda. Kemudian di awal tahun 1910-an, seorang laki-laki Belanda Gemser Brinkman divonis hukuman mati setelah membunuh perempuan Indo bernama Fience de Feniks. Brinkman mencekik Fience karena ia menolak dijadikan gundiknya. 


Bicara soal prostitusi, kita seperti mengelilingi sebuah lingkaran; tanpa ujung dan selalu kembali ke tempat semula. Karena memang prostitusi adalah sebuah kejahatan struktural, artinya tidak berdiri sendiri. 


Dalam topik prostitusi kita bisa bicara soal ekonomi, moral, hukum, HAM, kamtibnas, pendidikan dan lain-lain. Meski begitu, di Indonesia prostitusi lebih identik dengan kesalahan moral dan norma sosial. 


Prostitusi juga melahirkan diskriminasi bagi para penjaja seks di masyarakat. Seorang penjaja seks dipandang kotor, hina, tak bermoral, murahan. Padahal, dalam hemat saya, penjaja seks adalah korban dari kerasnya hidup, beratnya beban ekonomi, sampai dengan gelapnya rumah yang harusnya jadi tempat paling aman bagi manusia di bumi ini.


Mereka juga manusia yang mencari rezeki, seperti pekerja-pekerja yang lainnya. Hanya saja, berada dalam jalur yang sulit diterima masyarakat. 


Kang Maman Suherman, menghadirkan perspektif baru dalam prostitusi melalui novel Re:. Beliau menyajikan fakta di lapangan dalam versi yang lebih santai dalam Re:.


***


Re: novel yang menceritakan tentang seorang penjaja seks narasumber skripsi Kang Maman di tahun 1987-1989. Novel ini menceritakan kisah hidup Re: dalam pekatnya dunia malam. 


"Ya, namaku Rere, sering dipanggil Re:." 

"Itu nama sebenarku? Apa perlunya kamu tahu itu nama asli atau bukan?"

"Sudahlah  kalau mau jadi temanku, nggak usah usik-usik soal nama! Panggil saja aku Rere!" 


Yap, Re: adalah nama panggilan Rere. Kang Maman, sudah menulis nama panggilan ini dengan "Re:" sejak ia mencatat wawancara itu. 


Re: adalah cerita hidup, pelajaran, perngalaman seorang wanita penjaja kenikmatan duniawi. 


Lewat novel ini, Kang Maman memperlihatkan sisi lain dunia prostitusi di Jakarta tahun akhir tahun 1980-an.


Dalam novel ini ada beberapa fakta yang ditemukan oleh Kang Maman selama masa penelitiannya. Di antaranya adalah eksistensi pelacur heteroseksual dan homoseksual. 


Selain itu, dalam novel ini saya juga menemukan pembagian kategori pelacur menurut penelitian yang dilakukan penulisnya sendiri. 


Yang pertama ada menurut permintaannya.  


Permintaan di sini merujuk kepada permintaan dari pengguna jasa penjaja seks. Kang Maman membaginya menjadi tiga:


  1. Pelacuran Homoseksual; 

  2. Pelacuran Heteroseksual; dan kalau mau ditambahkan

  3. Pelacuran transvetit. 


Pelacuran homoseksual adalah penjaja seks yang melayani pelanggan dari sesama jenis kelaminnya. Misalnya wanita dengan wanita, laki-laki dengan laki-laki. 


Sedangkan Pelacuran Heteroseksual adalah penjaja seks yang melayani pelanggan dari jenis kelamin yang berbeda. Misalnya laki-laki dengan perempuan, perempuan dengan laki-laki. 


Untuk pelacuran transvetit sendiri saya sebenarnya belum terlalu yakin artinya apa. Namun jika dilihat dari apa yang ada dalam novelnya, saya pikir ini adalah penjaja seks yang mau melayani prlanggan dari sesama jenis kelamin atau yang berbeda. 


Yang kedua menurut jenis kelamin.


Ini maksudnya adalah jenis kelamin para penjaja seks-nya ya. 


  1. WTS (Wanita Tuna Susila)

  2. LTS (Lelaki Tuna Susila)

  3. BTS (Banci Tuna Susila)


Yang ketiga menurut segi lokasi.


Lokasi di sini saya pikir maksudnya adalah tempat di mana para penjaja seks sering "nongkrong" menunggu pelanggannya datang. 


  1. Pelacuran Jalanan;

  2. Pelacuran Panggilan (penjaja seks-nua nunggu di satu tempat);

  3. Pelacuran Rumah Bordil; dan

  4. Pelacuran Terselubung.


Yang keempat menurut frekuensi


Dari sisi sering atau tidaknya penjaja seks menerima pelanggan, Kang Maman membaginya menjadi dua:


  1. Amatir atau menjadi penjaja seks hanya untuk mendapatkan penghasilan sampingan

  2. Profesional atau menjadikan penjaja seks sebagai sumber penghasilan utama. 

***

Re: bagi saya sendiri dapat mengubah pandangan saya terhadap seorang penjaja seks, dan sedikit mengetahui apa yang mereka rasakan.


Kang Maman menceritakan perjalanan penulisan skripsinya dengan baik, menarik, mudah dipahami, tetapi juga menghadirkan konflik yang tidak monoton. 


Nah, apa yang membuat Rere mampu bertahan menghadapi kerasnya cobaan hidup seorang penjaja seks? Bagaimana ia bisa menjadi seorang penjaja seks? Bagaimana kelanjutan ceritanya? Silakan baca bukunya di aplikasi iPusnas atau beli versi cetaknya di toko buku kesayanganmu!

Lebih baru Lebih lama