Antara Bulu Hidung, Bahagia Dan Kecewa


source: www.pixabay.com



Siapa yang nggak mau bahagia dalam hidupnya? Saya rasa semua orang sama-sama mengejar kebahagiaan mereka masing-masing. Meski punya titel sama "bahagia" nyatanya bentuk dari titel itu ada banyak sekali--mungkin ribuan. Ya hal itu nggak terlepas dari jumlah manusianya juga sih. Di Indonesia saja ada 250 juta manusia kurang lebih, di dunia ada sekitar 7,7 miliar manusia pada tahun 2019. Nggqk mungkin hanya ada satu bentuk "bahagia" untuk memuaskan 7,7 miliar penduduk bumi.

Seorang kawan dekat saya pernah bercerita tentang bagaimana akhirnya dia merasakan kebahagiaan. Cerita bermula saat dia dituntut menyelesaikan studinya di kampus oleh orang tuanya. Tuntutan tersebut ternyata menjadi beban untuknya, belum lagi dosen pembimbing yang--dia anggap--menyulitkannya, serta seabreg permasalahan mahasiwa tingkat akhir. 

Tau apa yang membuat dia bahagia? Bukan, bukan lulus sesuai dengan target yang sudah ditentukan, dia bahagia karena pagi hari sebelum berangkat ke kampus, dia menemukan amplop bertuliskan "buat Ujang dari mamah." 

Si Ujang yang sudah biasa membawa uang tiga puluh ribu ke kampus, hari itu senang bukan kepalang. Di dalam amplop ada uang seratus ribu. "Lumayan, bisa buat makan dan ngopi di kantin." Gumamnya. Buat Ujang, makan dan ngopi di kantin memang  hal yang mewah.

Bekal sehari-harinya yang tiga puluh ribu itu, sebenarnya hanya cukup untuk beli makan yang satu porsinya lima sampai tujuh ribu rupiah. Ditambah air minum gratis dari tukang warung dan rokok Signature dua batang, maka jatah jajan Ujang pun habis. Sisanya yang dua puluh ribu dia gunakan untuk ongkos pulang-pergi dari rumah ke kampus. 

Beruntung revisian skripsi sudah selesai, Ujang hanya harus ke kampus untuk menyiapkan persyaratan ujian sidang skripsi. Bahagia yang kedua kali untuk Ujang: datang ke kampus tanpa memikirkan Skripsi dan revisi. 

Entah kenapa, makanan kantin kampus hari itu jauh lebih daripada biasanya. Ujang makan dengan lahap dan sekali lagi, tanpa beban. Singkat cerita, Ujang selesai menyiapkan persyaratan sidang dan perutnya sudah kenyang terisi makanan favorit dari kantin kampusnya. Ujang bergegas pulang untuk menyiapkan sidang skripsinya. 

Sampai di rumah ternyata ada makanan enak lagi di meja makan. "Alah siah! Hoki banget makan enak dua kali sehari!" Ujang berteriak, dalam hatinya. Di tengah-tengah suapan tangannya yang nikmat itu, mamahnya pulang. 

"Dawwi mwaa mwaah?" Tanya Ujang dengan mulut yang penuh makanan
"Abis beli rokok, bapakmu pengen ngerokok katanya Jang."
"Bilangin bapak mah, jangan terlalu banyak merokok. Dah tua, nanti cepet mati!"
"Hush!! Gak boleh ngomong begitu!"

Piring di hadapan Ujang sudah bersih, dia menjilati jarinya agar nggak ada lagi bumbu yang menempel di sana. Lalu kembali ke kamarnya, sudah waktunya belajar. 

Dari dalam kamar, Ujang tiba-tiba berteriak

"MAAAH!!"
"Apa Jaaang?" Mamah menyaut dari arah dapur. Ujang kemudian menghampiri mamahnya.
"Liat kresek hitam di meja belajar Ujang nggak?" Lanjut Ujang setelah sampai di dapur
"Ooh, itu kemarin mamah kilo sekalian sama rongsok. Abis udah dekil gitu kreseknya."
"Ya Allah Mah!! Itu isinya skripsi Ujang semua di situ." 

Hari itu juga Ujang mencoba mengeluarkan setiap makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya, mungkin dia berharap nanti yang keluar berupa bundle-an skripsian lima buah. 

Dari cerita Ujang saya jadi yakin kalau batas bahagia dan kecewa itu nggak lebih lebar dari bulu hidungmu!

Lebih baru Lebih lama